BELITUNGVIBE.ID – Asal usul Cheng Beng di Bangka Belitung (Babel) tak lepas dari tradisi leluhur Tiongkok yang dibawa pekerja tambang timah sejak abad ke-18.
Ritual sembahyang kubur ini masih dijalankan hingga kini. Tradisi itu tidak hanya datang, tetapi tumbuh dan hidup di tanah timah, lalu menyatu dengan identitas masyarakat setempat.
Setiap tanggal 4 atau 5 April, suasana pemakaman di Bangka Belitung berubah. Keluarga datang silih berganti. Mereka membersihkan makam, menyalakan dupa, membawa makanan, lalu berdoa dalam hening.
Hari ini, Minggu 5 April 2026, tradisi itu kembali berlangsung. Cheng Beng atau Sembahyang Kubur.
Bagi masyarakat Tionghoa di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, momen ini bukan sekadar ritual tahunan. Tradisi ini menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini. Sebuah bentuk bakti yang diwariskan lintas generasi.
Namun, dari mana sebenarnya tradisi ini bermula di Bangka Belitung, Negeri Serumpun Sebalai?
Akar Tradisi dari Peradaban Kuno Tiongkok

Menurut Dato’ Akhmad Elvian, sejarawan dan budayawan Babel penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia, Cheng Beng atau Ceng Beng telah dikenal sejak masa Dinasti Han, sekitar 206 sebelum Masehi.
“Secara makna, “Ceng” berarti bersih atau cerah, sementara “Beng” berarti terang atau cemerlang. Dua kata ini mencerminkan filosofi penghormatan yang tulus dan jernih kepada leluhur,” katanya.
Pelaksanaannya memiliki waktu khusus. Cheng Beng jatuh pada tanggal 4 April saat tahun kabisat atau 5 April pada tahun biasa. Tradisi ini juga dikenal sebagai hari ke-104 setelah Imlek.
Ritual ini dilakukan dengan satu tujuan utama, yakni menghormati dan mengenang leluhur di tempat peristirahatan terakhir mereka.
“Karena itu, di Bangka, masyarakat lebih akrab menyebutnya sebagai ‘sembahyang kubur’,” ungkap Dato’ Akhmad Elvian.
Masuk ke Bangka Lewat Pekerja Tambang
Jejak Cheng Beng di Bangka Belitung tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang pertambangan timah. Tradisi ini dibawa oleh para pekerja Tionghoa yang didatangkan dari daratan Tiongkok.
Kehadiran mereka tercatat sejak masa Sultan Mahmud Badaruddin I pada tahun 1724 Masehi.
Para pekerja ini datang untuk memenuhi kebutuhan tenaga di sektor tambang. Namun bersama mereka, ikut pula sistem kepercayaan, adat, dan tradisi yang kemudian tumbuh dan berakar di tanah Bangka.
Cheng Beng menjadi salah satu tradisi yang bertahan.
Pada masa Hindia Belanda, kehidupan pekerja tambang Tionghoa diatur cukup ketat. Dalam satu tahun, mereka hanya memiliki waktu libur sekitar 15 hari.
Waktu tersebut dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Sekitar empat hari digunakan untuk merayakan Tahun Baru Imlek atau Kongian.
Sisanya digunakan untuk menikah dan menjalankan berbagai tradisi, termasuk Cheng Beng. Di tengah keterbatasan itu, tradisi tetap dijaga.
Sebaran Komunitas Tionghoa di Pat Kong Mun
Komunitas Tionghoa di Pulau Bangka pada masa itu umumnya menempati kawasan pertambangan timah yang dikenal dengan istilah Pat Kong Mun.
Wilayah ini meliputi Wendao atau Buntu di Mentok, Nampong di Jebus, Blijong di Belinyu, Liatkong di Sungailiat, Liusak di Merawang atau Baturusa, Pinkong di Pangkalpinang, Komuk di Koba, hingga Sabang di Toboali.
Di setiap kawasan tersebut, terdapat kompleks pemakaman luas yang dikenal sebagai Tjhunghua Kung Mu Yen. Di tempat-tempat inilah tradisi Cheng Beng terus dijalankan dari generasi ke generasi.
Kompleks Makam Sentosa, Arsip Hidup Sejarah Pangkalpinang

Di Kota Pangkalpinang, Ibu Kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, jejak sejarah itu paling jelas terlihat di Kompleks Pemakaman Sentosa.
Sebelum dikenal dengan nama tersebut, kawasan ini sudah tercatat dalam peta topografi kolonial Belanda tahun 1928–1929 sebagai lokasi Chineesche Graven atau makam orang Tionghoa.
Letaknya berada di sisi timur jalan menuju Distrik Koba, tepat di penanda kilometer tiga.
Pada tahun 1935, di masa pemerintahan Residen Mann CJ (1934–1942), kawasan ini diresmikan sebagai kompleks makam Tionghoa Sentosa. Pembangunan ditandai dengan gerbang utama, bangunan Paithin sebagai rumah sembahyang, serta tugu pendiri makam.
“Berdasarkan prasasti di lokasi tersebut, kompleks ini didirikan oleh empat tokoh, yakni Yap Fo Sun (wafat 1972), Chin A Heuw (wafat 1950), Yap Ten Thiam (wafat 1944), dan Lim Sui Cian yang wafat pada masa pendudukan Jepang,” cerita Akhmad Elvian.
Kini, kompleks ini membentang dari utara ke selatan dengan luas sekitar 199.450 meter persegi atau hampir 20 hektare, dengan jumlah makam sekitar 13 ribu.
Awalnya, luas kawasan ini mencapai 25,2 hektare. Namun pada 7 Juli 1981, sebagian lahan sekitar 5,6 hektare diserahkan kepada Pemerintah Kota Pangkalpinang untuk pembangunan fasilitas umum, termasuk rumah sakit dan kantor pemerintahan.
Demografi yang Membentuk Wajah Bangka
Besarnya kompleks pemakaman ini tidak lepas dari jumlah populasi Tionghoa di Bangka pada masa kolonial.
Data sensus Belanda tahun 1920 mencatat, jumlah warga Tionghoa mencapai 67.398 orang atau sekitar 44,6 persen dari total penduduk Pulau Bangka yang berjumlah 154.141 orang.
Di Pangkalpinang, jumlahnya bahkan mendominasi. Dari total 15.666 penduduk, sebanyak 10.653 orang merupakan warga Tionghoa.
Pada tahun 1930, jumlah penduduk Pangkalpinang meningkat menjadi sekitar 52.000 orang, dengan sekitar 21.000 di antaranya merupakan warga Tionghoa.
Mereka tidak hanya bekerja di tambang timah, tetapi juga berperan dalam perdagangan, pertanian, hingga perikanan. Sementara masyarakat Melayu banyak menggantungkan hidup pada lada, beras, dan hasil laut.
Interaksi ini membentuk struktur sosial dan ekonomi yang khas di Bangka Belitung, Negeri Serumpun Sebalai Penghasil Timah.
Ruang Keberagaman dalam Satu Kompleks Pemakaman
Salah satu hal menarik dari Kompleks Makam Sentosa adalah wajah keberagamannya.
Di dalam satu kawasan, terdapat makam dari berbagai latar belakang kepercayaan, mulai dari Khonghucu, Katolik, Protestan, Hindu, hingga Buddha.
Bahkan terdapat pula dua makam Muslim, yakni Ny. Tjurianty binti Kusumawidjaya dan Gunawan bin Tanda.
Hal ini menunjukkan bahwa interaksi budaya di Bangka Belitung telah berlangsung lama dan berjalan harmonis.
Tradisi Penguburan dan Jejak Artefak
Selain tradisi ziarah Cheng Beng, masyarakat Tionghoa di Bangka juga memiliki praktik pemakaman khas. Jenazah umumnya dimakamkan menggunakan peti kayu yang disebut kerendak atau kong choi.
Di sisi lain, terdapat pula praktik kremasi. Abu jenazah disimpan dalam tempayan keramik.
Tempayan-tempayan ini kerap ditemukan saat masyarakat membuka lahan. Sebagian bahkan telah menjadi koleksi di Museum Nasional Jakarta.
Hari ini, saat keluarga kembali berdatangan ke makam leluhur, Cheng Beng bukan sekadar ritual keagamaan.
Ia menjadi pengingat tentang perjalanan panjang manusia, tentang akar budaya yang tetap dijaga, dan tentang cara sebuah komunitas merawat ingatan kolektifnya. Di Bangka Belitung, Cheng Beng bukan sekadar tradisi, tapi sejarah yang terus hidup hingga kini. (Sumber: Babel Pos)



