BELITUNGVIBE.ID, MEMBALONG – Desa Lassar di Kecamatan Membalong, Kabupaten Belitung, mulai dipersiapkan menjadi destinasi ekowisata berbasis masyarakat.
Terletak di pesisir bagian selatan Pulau Belitung, desa ini menyimpan kekayaan alam yang masih terjaga. Gugusan pulau eksotis, hutan mangrove, padang lamun, hingga habitat dugong menjadi modal besar untuk mengembangkan wisata berbasis konservasi.
Potensi tersebut kini mulai dikembangkan melalui Program SOLUSI, kolaborasi Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jerman yang mendorong pengelolaan bentang darat dan laut secara berkelanjutan.
Program ini tidak hanya berfokus pada pelestarian lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat melalui pengembangan ekowisata berbasis sumber daya lokal.
Pemanfaatan potensi alam menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kesejahteraan warga tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
BACA JUGA: Belitong UGGp Jelang Revalidasi Geopark 2026, Menpar: Tuntaskan Rekomendasi UNESCO
Gugusan Pulau Eksotis Jadi Andalan
Tak banyak yang mengetahui bahwa sejumlah pulau kecil di belakang Leebong Private Resort merupakan bagian dari wilayah administrasi Desa Lassar.
Pulau Betangan, Pulau Mengkukong, Pulau Bagu, Pulau Krenggan, hingga Pulau Menduluk menawarkan panorama laut yang masih alami dengan keindahan pesisir yang relatif belum banyak tersentuh.
Selain menyuguhkan pemandangan alam, kawasan tersebut juga menyimpan nilai sejarah yang berpotensi dikembangkan sebagai bagian dari paket wisata berbasis alam dan budaya.
Kekayaan wisata bahari Desa Lassar juga didukung kawasan mangrove yang masih terjaga serta hamparan padang lamun yang luas.
Ekosistem tersebut menjadi habitat berbagai biota laut sekaligus kawasan pemijahan ikan yang berperan penting menjaga keseimbangan lingkungan pesisir.
Habitat Dugong dan Kekayaan Hayati
Salah satu kekayaan alam yang dimiliki Desa Lassar, Kecamatan Membalong adalah keberadaan dugong atau duyung.
Mamalia laut yang kini berstatus langka itu masih ditemukan di perairan desa dan menjadi salah satu fokus utama kegiatan konservasi.
Selain dugong, wilayah pesisir Desa Lassar juga dikenal sebagai kawasan penghasil kepiting rajungan, teripang, serta Bingkis Beteluk yang muncul pada musim tertentu.
Potensi tersebut banyak dijumpai di kawasan Dusun Batu Mana, Dudat, dan Ulim yang selama ini menjadi wilayah tangkap masyarakat nelayan.
Sementara itu, kawasan daratan Desa Lassar juga memiliki Bukit Gadong yang telah dikenal sebagai destinasi wisata minat khusus dengan panorama alam dari puncak perbukitan.
BACA JUGA: Menginap di Dafam Resort Belitung Bisa Dapat Voucher Gratis, Ini Cara Ikut Challenge-nya
Dipilih Jadi Desa Percontohan Program SOLUSI
Direktur Yayasan Tarsius Center Indonesia (TCI), Budi Setiawan, mengatakan beragam potensi tersebut menjadi alasan Desa Lassar dipilih sebagai salah satu desa percontohan Program SOLUSI.
Program nasional tersebut merupakan hasil kerja sama Pemerintah Indonesia melalui Bappenas dengan Pemerintah Jerman melalui BMUV/IKI dalam pengelolaan bentang darat dan laut secara terpadu.
Menurut Budi, berbagai kegiatan telah dilaksanakan sejak tahun lalu. Mulai dari kajian ekosistem mangrove, padang lamun, dan dugong, kajian sosial kemasyarakatan, pembentukan kelompok ekowisata, pembentukan kelompok pemantau dugong dari masyarakat setempat, hingga pelatihan monitoring dugong.
Memasuki 2026, fokus program mulai diarahkan pada penguatan ekonomi masyarakat melalui pengembangan ekowisata serta usaha berbasis sumber daya lokal.
“Memasuki tahun 2026, program mulai difokuskan pada penguatan ekonomi masyarakat melalui pengembangan ekowisata dan usaha berbasis sumber daya lokal,” kata Budi Setiawan dalam keterangan tertulisnya, 5 Agustus 2026.
BACA JUGA: Pantai Tanjung Kelayang Bersolek, Ini Langkah Pemkab Belitung Tata Kawasan Wisata
Dukung Ekowisata dan UMKM Warga
Sebagai bagian dari pengembangan ekowisata, Program SOLUSI menyerahkan bantuan satu unit speed boat lengkap dengan mesin dan perlengkapan keselamatan kepada kelompok pengelola ekowisata bersama Pemerintah Desa Lassar pada Agustus 2026.
Bantuan tersebut diserahkan oleh Project Leader Program SOLUSI Belitung dari Yayasan KEHATI bersama Direktur Yayasan Tarsius Center Indonesia.
Perahu tersebut akan dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pemantauan dugong sekaligus operasional wisata berbasis konservasi.
Program ini juga memberikan perhatian terhadap penguatan usaha masyarakat.
Pada Rabu, 5 Agustus 2026, Kelompok UMKM Barokah Sari Ketam yang beranggotakan perempuan nelayan Desa Lassar mengikuti pelatihan pengolahan produk turunan kepiting.
Kelompok tersebut juga menerima berbagai bantuan peralatan produksi, mulai dari freezer, kompor, blender, chopper, timbangan, sealer, celemek, hingga perlengkapan pendukung lainnya.
Pendampingan tidak berhenti pada pelatihan produksi. Program SOLUSI juga akan membantu proses branding, pemasaran, hingga memfasilitasi kelompok UMKM mengikuti berbagai pameran promosi.
BACA JUGA: Belitong Geopark Run 2027 Digelar di Tanjung Kelayang, Belitung Siap Dongkrak Pariwisata
Desa Lassar Disiapkan Jadi Destinasi Ekowisata
Pengembangan Desa Lassar, Kecamatan Membalong, Belitung juga mencakup peningkatan kapasitas sektor pariwisata.
Program SOLUSI akan mendampingi penyusunan travel pattern, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pembangunan Tourist Information Center (TIC), dermaga sandar wisata, penyusunan media promosi, hingga fasilitasi mengikuti berbagai pameran pariwisata.
Melalui berbagai langkah tersebut, desa ini diharapkan mampu tumbuh sebagai destinasi ekowisata berbasis masyarakat yang memadukan konservasi alam dengan peningkatan kesejahteraan warga.
Dengan kekayaan pulau-pulau kecil, ekosistem pesisir yang masih terjaga, habitat dugong, hingga potensi wisata alam di Bukit Gadong, Desa Lassar dinilai memiliki modal besar untuk menjadi salah satu destinasi ekowisata unggulan baru di Pulau Belitung. (*)



