BELITUNGVIBE.ID – Para perantau Tionghoa memadati Kabupaten Belitung untuk merayakan tradisi Cheng Beng 2026 yang puncaknya berlangsung di Perkuburan Pilang.
Momentum sembahyang kubur ini terbukti menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat mulai dari pedagang bunga hingga jasa transportasi.
Tokoh Masyarakat Tionghoa Belitung Ayie Gardiansyah mengatakan, bahwa gelombang kepulangan warga dari luar daerah bahkan luar negeri meningkat drastis.
Tradisi leluhur Cheng Beng bukan sekadar ritual tahunan melainkan identitas kultural yang sangat melekat bagi masyarakat Negeri Laskar Pelangi.
“Saat ini warga keturunan Tionghoa Belitung sedang merayakan Cheng Beng,” ujar Ayie Gardiansyah, dikutip dari Antara, Jumat 27 Maret 2026.
Tradisi Bakti dan Pulang Kampung Perantau
Bakti kepada orang tua menjadi alasan utama para perantau rela menempuh perjalanan jauh demi berziarah langsung ke makam leluhur.
Mereka memprioritaskan momen ini untuk mendoakan orang tua yang telah mendahului sebagai wujud penghormatan tertinggi dalam keluarga.
“Tradisi Cheng Beng Belitung adalah wujud berbakti kepada leluhur melalui ziarah ke makam para leluhur,” jelas Ayie menekankan makna mendalam di balik ritual ini.
Aktivitas ziarah di komplek perkuburan Tionghoa Pilang Tanjungpandan terpantau sangat padat sejak dini hari pukul 04.00 WIB.
Geliat doa dan nyala dupa menyinari area pemakaman hingga matahari terbit yang diperkirakan berlangsung sampai 5 April mendatang.
Ekonomi Lokal Belitung Kecipratan Berkah
Lebih dari sekadar ritual keagamaan, Cheng Beng Belitung 2026 sukses memutar roda ekonomi masyarakat lokal secara signifikan di berbagai lini usaha.
Lonjakan permintaan terjadi mulai dari kebutuhan bunga segar, lilin, dupa, hingga bahan pangan untuk keperluan persembahan di atas pusara.
“Banyak kebutuhan untuk keperluan sembahyang yang dibeli masyarakat sehingga menggerakkan ekonomi lokal secara signifikan,” ungkap Ayie.
Sektor transportasi dan akomodasi juga kecipratan untung besar berkat membeludaknya pesanan tiket serta kamar hotel dari para pemudik.
Pedagang kecil di sekitar area perkuburan merasakan kenaikan omzet harian berkali-kali lipat dibandingkan hari biasa berkat antusiasme peziarah.
Wujud Nyata Toleransi Negeri Laskar Pelangi
Pelaksanaan Cheng Beng yang berjalan khidmat menjadi cermin kuatnya nilai kerukunan antarumat beragama yang tetap terjaga di Kabupaten Belitung.
Masyarakat lintas etnis hidup berdampingan dengan saling menghormati tradisi ziarah satu sama lain tanpa adanya gesekan sosial.
“Cheng Beng juga menjadi bentuk nyata dari toleransi dan kerukunan di Belitung,” tegas Ayie dengan nada bangga.
Keharmonisan ini merupakan aset tak ternilai yang terus dirawat oleh seluruh lapisan masyarakat di tanah Laskar Pelangi.
Saling menjaga kenyamanan saat ritual berlangsung membuktikan bahwa perbedaan budaya adalah kekuatan utama dalam membangun daerah. (*)





