BELITUNGVIBE.ID – Penerbangan Scoot Singapura – Tanjungpandan pada 3 Mei 2026 menjadi penanda penting kembalinya akses internasional, sekaligus membuka jalan wisata Belitung terhubung ke dunia.
Momentum ini bukan sekadar rute penerbangan baru. Di baliknya, ada proses panjang yang melibatkan upaya penjajakan, penyusunan data, dan koordinasi lintas sektor untuk mengembalikan status internasional Bandara H.AS Hanandjoeddin.
Direktur KEK Tanjung Kelayang, Daniel Alexander Napitupulu, menjelaskan bahwa proses menuju pembukaan rute ini sudah dimulai sejak akses internasional terhenti akibat pandemi pada 2021.
Bagi Belitung, kondisi tersebut bukan hanya soal pembatasan perjalanan. Lebih dari itu, ini menjadi tantangan bagi keberlanjutan sebuah destinasi yang sebelumnya mulai dikenal dunia.
Kondisi semakin menantang ketika pada 2024, Bandara H.AS Hanandjoeddin Tanjungpandan sempat mengalami penurunan status menjadi bandara domestik.
Kebijakan ini memicu pesimisme di sektor pariwisata daerah. Sejumlah pelaku usaha menilai akses internasional Belitung terancam tertutup.
Di tengah situasi tersebut, KEK Tanjung Kelayang mengambil peran untuk mendorong pemulihan akses internasional tersebut.
Upaya tersebut melalui penjajakan teknis dan koordinasi dengan para pemangku kebijakan di Kementerian Perhubungan hingga Kemenko Perekonomian melalui skema KEK.
Daniel menegaskan bahwa rekomendasi pembukaan kembali pintu internasional tidak dilakukan secara instan. Menurutnya, pengajuan tersebut disusun berbasis data yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Kami menyajikan data kunjungan wisatawan secara komprehensif, mulai dari data Dispar, Dishub, hingga Angkasa Pura. Kami juga memproyeksikan dampak ekonominya jika penerbangan internasional dibuka kembali,” ujarnya, Senin 20 April 2026.
Pihaknya juga melakukan studi komparasi dengan destinasi di kawasan yang terhubung dengan hub Singapura, seperti Langkawi di Malaysia dan Koh Samui di Thailand, untuk mengukur posisi kompetitif Belitung.
BACA JUGA: Wisata Belitung dari Singapura Kini Lebih Praktis dan Hemat, Ini Perbandingan via Jakarta
Sinergi di Balik Akses Internasional Belitung
Dukungan pemerintah daerah menjadi bagian penting dalam upaya membuka kembali akses internasional ke Belitung. Terutama penerbangan Scoot rute Singapura – Tanjungpandan
Koordinasi antara Penjabat Bupati Belitung saat itu dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menjadi kunci dalam membuka kembali jalur birokrasi yang sebelumnya tertutup.
Proses ini dijalankan melalui mekanisme yang sesuai aturan, dengan komunikasi dan koordinasi yang intensif.
Hasilnya, pada Maret 2025, Bandara H.AS Hanandjoeddin kembali ditetapkan sebagai International Entry Point dengan masa uji coba selama dua tahun.
“Masa uji coba ini sebagai fase pembuktian bagi seluruh pemangku kepentingan di daerah, untuk menunjukkan kesiapan Belitung dalam mengelola kembali akses internasional,” katanya.
Daniel menegaskan bahwa momentum ini tidak boleh berhenti pada seremoni semata. Keberlanjutan rute internasional sangat bergantung pada tingkat keterisian penumpang dan kesiapan ekosistem pariwisata.
Promosi Wisata Belitung ke Pasar Internasional
KEK Tanjung Kelayang kemudian mengarahkan strategi promosi wisata Belitung langsung ke pasar internasional, tidak hanya berfokus di dalam negeri.
Pendekatan ini diarahkan untuk menjangkau calon wisatawan di negara asalnya, seiring target mendatangkan wisatawan mancanegara ke Belitung.
Salah satu langkahnya adalah mengundang jurnalis dari sejumlah media internasional, seperti Channel News Asia, The Straits Times, Honeycomber, Timeout Singapore, hingga Sydney Morning Herald dari Australia. Mereka diboyong untuk melihat langsung potensi wisata Belitung.
Melalui pendekatan ini, diharapkan muncul ulasan independen yang dapat memperkenalkan Belitung ke pasar global, termasuk kekuatan Belitong UNESCO Global Geopark.
Pada April 2026, KEK Tanjung Kelayang juga memfasilitasi konferensi pers yang melibatkan 14 media dari Singapura dan 18 media nasional di Jakarta.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun eksposur internasional sekaligus memperkuat kesadaran pasar sebelum penerbangan perdana Scoot Singapura – Tanjungpandan dimulai.
“Kami memasarkan langsung ke pasar yang menjadi sumber wisatawan, sehingga promosi yang dilakukan bisa berdampak pada masuknya wisatawan mancanegara,” ujar Daniel.
BACA JUGA: Paket Wisata Belitung 2026, Harga dan Itinerary Bikin Liburan Tanpa Ribet
Akses Wisata Belitung Singapura Kurang dari 1 Jam

Pemilihan Scoot sebagai maskapai perdana untuk rute Singapura–Belitung dinilai selaras dengan kebutuhan konektivitas jarak pendek.
Sebagai bagian dari SIA Group, Scoot terhubung dengan jaringan penerbangan internasional melalui Bandara Changi, Singapura.
Rute ini dilayani menggunakan pesawat Embraer E190-E2 yang dinilai efisien untuk penerbangan jarak dekat. Waktu tempuh dari Singapura ke Tanjungpandan diperkirakan kurang dari satu jam.
“Kita punya keunggulan geografis. Dalam waktu singkat, wisatawan mancanegara sudah bisa tiba di Belitung untuk melihat potongan surga di bumi,” ujar Daniel.
Daniel menilai, faktor geografis ini menjadi nilai jual yang tidak dimiliki banyak destinasi lain. “Efisiensi waktu menjadi salah satu kekuatan utama Belitung dalam menarik wisatawan global,” ujarnya.
Sebagai perbandingan, perjalanan ke sejumlah destinasi lain seperti Maladewa, Koh Samui, hingga Raja Ampat umumnya membutuhkan waktu tempuh yang lebih panjang.
“Sementara itu, Belitung menawarkan akses yang lebih singkat, dengan lanskap pantai granit yang menjadi ciri khasnya,” sebut Daniel.
Nilai Tambah KEK Tanjung Kelayang
Dari sisi pengembangan kawasan, KEK Tanjung Kelayang seluas 324,4 hektare terus memperkuat infrastruktur pendukung dengan pendekatan berkelanjutan.
Daya tarik tidak lagi hanya bertumpu pada pantai, tetapi juga pada pengembangan Biodiversity Center sebagai pusat keanekaragaman hayati.
Kawasan ini menjadi habitat bagi sejumlah fauna endemik yang dilindungi, seperti tarsius, trenggiling, dan penyu laut. Kehadirannya membuka peluang pengembangan wisata minat khusus, termasuk ekowisata dan penelitian.
Potensi tersebut menjadi bagian dari narasi besar Belitong UNESCO Global Geopark, yang memperkuat posisi Pulau Belitung sebagai destinasi berbasis konservasi.
“Kombinasi antara akses udara yang semakin mudah dan kekayaan alam yang terjaga dapat mendorong dampak ekonomi bagi daerah,” katanya.
BACA JUGA: Wisata Belitung Kini 1 Jam Lebih dari Singapura, Saatnya Liburan ke Surga Tropis
Dampak Ekonomi dan Perputaran Devisa
Dampak ekonomi dari kembalinya akses internasional diharapkan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Pulau Belitung. Mulai dari sektor transportasi bandara hingga pelaku UMKM kuliner.
Koperasi taksi, pemilik restoran, pedagang kerajinan, hingga pemandu wisata dan operator travel mulai bersiap menyambut potensi peningkatan kunjungan.
“Masuknya wisatawan mancanegara akan mendorong perputaran devisa di tingkat lokal, termasuk di pasar dan sektor kuliner di Belitung dan Belitung Timur,” ujar Daniel.
Perbedaan nilai tukar mata uang juga dinilai menjadi peluang untuk meningkatkan pendapatan daerah di tengah dinamika ekonomi global.
Untuk itu, koordinasi terus dilakukan dengan berbagai asosiasi pariwisata seperti ASITA, ASPI, serta komunitas kreatif melalui Gekraf.
Upaya ini bertujuan memastikan kesiapan layanan wisata Belitung, Negeri Laskar Pelangi, baik dari sisi harga maupun kualitas.
Daniel menegaskan, keberhasilan rute internasional ini tidak hanya bergantung pada satu pihak, tetapi membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
“Kita membangun ekosistem pariwisata. Karena itu, semua pihak, dari pemerintah hingga akademisi, perlu menyiapkan sumber daya yang mendukung,” ujarnya.
Rute Scoot yang dijadwalkan terbang dua kali seminggu setiap Rabu dan Sabtu diharapkan dapat berkembang menjadi penerbangan harian.
Keberhasilan rute ini juga dinilai dapat membuka peluang bagi maskapai internasional lain untuk masuk ke Belitung.
Dalam jangka panjang, KEK Tanjung Kelayang memproyeksikan investasi hingga Rp10,3 triliun dengan potensi penyerapan tenaga kerja sekitar 5.000 orang pada 2036.
Akses internasional ini menjadi pintu awal bagi investor untuk melihat langsung potensi ekonomi Belitung.
“Penerbangan perdana Scoot 3 Mei 2026 merupakan momen bersejarah sebagai langkah awal kembalinya Belitung ke pasar wisata internasional,” katanya.
Pemerintah daerah dan masyarakat Belitung pun harus bersiap menyambut kedatangan wisatawan mancanegara, seiring dibukanya kembali akses tersebut.
Dampak ekonomi diharapkan terasa melalui peningkatan aktivitas di berbagai sektor, termasuk pariwisata dan usaha lokal. Daniel berharap momentum ini dapat dijaga secara berkelanjutan.
“Belitung harus terus memperkuat kualitas destinasi agar tidak hanya bergantung pada musim, tetapi mampu berkembang sebagai destinasi internasional,” tandas Daniel.
Hingga saat ini, persiapan di terminal internasional Bandara H.AS Hanandjoeddin terus dilakukan, termasuk kesiapan layanan imigrasi, bea cukai, dan karantina.
Koordinasi antara otoritas bandara, maskapai, dan pengelola kawasan dilakukan untuk memastikan operasional berjalan lancar sejak penerbangan perdana.
Paket Wisata Premium Belitung Rute Singapura, Cara Baru Nikmati Hidden Paradise Indonesia
Paket Wisata Premium Belitung Mulai Disiapkan
Dibukanya rute langsung Singapura–Tanjungpandan juga diikuti respons dari pelaku industri pariwisata lokal Belitung.
Sejumlah operator mulai menyiapkan paket wisata premium untuk menyasar wisatawan mancanegara yang datang melalui jalur tersebut.
Pemilik Belitung Wonderful Tour, Endro Siswono, mengatakan pembukaan rute ini bukan sekadar soal konektivitas. Menurutnya, kemudahan akses turut mengubah cara wisatawan menjelajahi Belitung.
“Akses yang lebih singkat membuat Belitung semakin relevan sebagai destinasi alternatif di kawasan Asia Tenggara, terutama bagi wisatawan yang mencari pengalaman berbeda,” ujarnya, Jumat 17 April 2026.
Paket yang disiapkan Belitung Wonderful Tour tidak hanya menawarkan kunjungan ke destinasi, tetapi juga pengalaman yang lebih terkurasi.
Aktivitas seperti island hopping mengelilingi pulau-pulau cantik, snorkeling, hingga geopark tour dikemas dalam satu rangkaian perjalanan.
Selain itu, wisata berbasis pengalaman seperti pengamatan satwa dan tur budaya juga mulai dikembangkan untuk memperkaya pilihan aktivitas wisata.
Pendekatan ini dinilai sejalan dengan karakter wisatawan internasional yang cenderung mencari pengalaman, bukan sekadar kunjungan singkat.
Dengan akses yang kembali terbuka, Belitung kini tidak hanya kembali terhubung, tetapi juga dihadapkan pada tantangan menjaga kualitas destinasi di tengah peluang yang semakin besar.





