BELITUNGVIBE.ID – Wisata Belitung kini memasuki fase baru seiring terbukanya akses internasional melalui penerbangan Scoot rute Singapura–Tanjungpandan.
Keindahan batu granit yang selama ini menjadi ikon utama tidak lagi cukup. Destinasi ini mulai diarahkan menghadirkan pengalaman wisata yang lebih utuh dan berkelas.
Batu granit di pesisir Belitung tetap menjadi daya tarik utama yang dikenal luas wisatawan. Bentuknya unik, tersusun alami, dan menjadi magnet visual yang kuat.
Namun di balik keunikan lanskap tersebut, muncul kebutuhan menghadirkan pengalaman wisata yang tidak hanya dilihat, tetapi juga dirasakan.
Di sejumlah destinasi, batu granit tidak hanya dipahami sebagai bentukan alam. Masyarakat setempat juga mengenalnya melalui cerita dan kepercayaan yang berkembang secara turun-temurun.
Cerita-cerita ini kemudian menjadi bagian dari pengalaman wisata. Wisatawan tidak hanya datang untuk berfoto, tetapi juga memahami makna di balik setiap formasi batu.
Menurut Kusumah Kosasih, pelaku pariwisata Belitung, beberapa formasi batu granit bahkan memiliki nama, keunikan, dan kisah tersendiri.
Di antaranya Batu Buyong di Kabupaten Belitung Timur. Batu ajaib yang awalnya seukuran kepala bayi (buyong) peninggalan prajurit Kerajaan Majapahit dari tanah Jawa ·
Kemudian Batu Baginda dipercaya sebagai simbol pasangan, hingga Batu Garuda Belitung yang dikenal karena bentuknya menyerupai kepala burung.
“Cerita-cerita ini tidak selalu memiliki catatan tertulis, namun hidup dalam tradisi lisan masyarakat. Kehadirannya justru menjadi nilai tambah dalam pengalaman wisata,” kata Kusumah, Selasa (21/4/2026).
Karena itu, wisata ke kawasan batu granit di Belitung tidak hanya soal menikmati lanskap alam. Banyak wisatawan memilih menggunakan jasa pemandu untuk memahami cerita di balik setiap formasi batu.
Pendekatan ini membuat wisata terasa lebih utuh. Dari sekadar melihat keindahan, berkembang menjadi pengalaman yang memiliki makna dan cerita.
Storytelling Kunci Pengalaman Wisata Belitung

Pendekatan berbasis cerita dinilai menjadi salah satu kekuatan wisata Belitung ke depan. Peran pemandu wisata menjadi penting, tidak hanya sebagai pengarah perjalanan, tetapi juga sebagai penyampai cerita.
Menurut Kusumah, yang juga pengelola Belitung Island, keindahan destinasi perlu dilengkapi dengan narasi, atraksi, serta unsur seni dan budaya.
“Wisatawan sekarang tidak hanya ingin melihat. Mereka ingin merasakan pengalaman yang utuh. Karena itu, setiap destinasi harus punya cerita,” ujarnya.
Ia menilai, pendekatan tersebut akan memberikan kesan lebih mendalam, terutama bagi wisatawan mancanegara yang pertama kali datang ke Belitung.
“Misalnya, tour guide bisa menyampaikan cerita kepada wisatawan yang datang dari Singapura, sehingga mereka tidak hanya melihat, tetapi juga memahami pengalaman yang ditawarkan,” katanya.
Atraksi Budaya Belitung Perlu Hadir di Destinasi
Atraksi seni dan budaya Belitung di destinasi seperti Pantai Tanjung Tinggi dinilai penting untuk memperkaya pengalaman wisatawan, tidak hanya dari sisi visual, tetapi juga interaksi.
Karena itu, penguatan pengalaman wisata perlu dimulai langsung dari destinasi. “Di titik-titik seperti Pantai Tanjung Tinggi, idealnya ada ruang untuk atraksi seni dan budaya yang bisa dinikmati wisatawan,” ujarnya.
Ia menilai, kehadiran atraksi tersebut membuat wisata tidak hanya berfokus pada pemandangan, tetapi juga pengalaman yang lebih menyeluruh.
Kusumah menambahkan, atraksi budaya yang dihadirkan dapat mengangkat kehidupan masyarakat lokal sebagai bagian dari cerita wisata.
“Misalnya melalui pertunjukan yang mengangkat kehidupan masyarakat pendulang timah. Itu bagian dari cerita Belitung yang bisa dinikmati wisatawan,” katanya.
Pendekatan ini dinilai mampu membuat wisata tidak hanya menghadirkan keindahan, tetapi juga cerita yang membekas bagi wisatawan.
BACA JUGA: Wisata Belitung dari Singapura Kini Lebih Praktis dan Hemat, Ini Perbandingan via Jakarta
Pusat Kota Jadi Bagian dari Pengalaman Wisata

Penguatan pengalaman wisata tidak hanya berhenti di destinasi, tetapi juga perlu hadir hingga ke pusat kota.
Di Tanjungpandan, ruang-ruang publik dinilai dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan atraksi seni dan budaya sebagai bagian dari pengalaman wisata yang menyeluruh.
Menurut Kusumah, pendekatan ini membuat perjalanan wisata tidak terputus di satu titik, tetapi menjadi rangkaian pengalaman sejak wisatawan tiba hingga kembali.
Lebih lanjut, Kusumah menjelaskan, karakter wisatawan mancanegara saat ini menjadi pertimbangan penting dalam pengembangan konsep wisata.
Wisatawan cenderung tidak menyukai pola perjalanan yang terlalu kaku. Mereka lebih memilih pengalaman yang fleksibel dan terasa alami.
“Karena itu, penyajian atraksi dan pengalaman wisata perlu dirancang secara strategis, namun tetap menyatu dengan lingkungan destinasi,” jelasnya.
Konsep Wisata Terpadu Belitung Disorot
Seiring berkembangnya konsep wisata terpadu Belitung melalui penyusunan travel pattern, sejumlah pelaku pariwisata mulai memberikan pandangan terhadap arah pengembangannya.
Pola perjalanan ini dinilai tidak hanya mengatur rute, tetapi juga perlu memperhatikan kualitas pengalaman di setiap titik destinasi di Pulau Belitung.
Menurut Kusumah, pendekatan tersebut perlu dikurasi secara menyeluruh agar tidak hanya menjadi pola perjalanan, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan.
“Mulai dari destinasi hingga atraksi pendukungnya, semua perlu disusun agar sesuai dengan kebutuhan wisatawan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kolaborasi antar pelaku wisata menjadi kunci agar konsep yang dibangun tidak terasa kaku, tetapi tetap alami.
BACA JUGA: Paket Wisata Premium Belitung Rute Singapura, Cara Baru Nikmati Hidden Paradise Indonesia
Kolaborasi Pengelolaan Pulau Jadi Kunci

Selain itu, kolaborasi antar pengelola destinasi di Belitung, khususnya kawasan island hopping, juga harus menjadi perhatian untuk pembenahan.
Menurut Kusumah, pengelolaan pulau-pulau wisata seperti Pulau Lengkuas sebenarnya telah memiliki fasilitas dasar. Namun, akses terhadap fasilitas tersebut dinilai perlu dibuka dan dioptimalkan untuk mendukung kenyamanan wisatawan.
“Fasilitasnya sebenarnya sudah ada. Tinggal bagaimana aksesnya bisa dibuka dan dimanfaatkan untuk menunjang kunjungan wisatawan,” ujarnya.
Ia menilai, pemanfaatan fasilitas tersebut tetap memerlukan koordinasi lintas pihak, termasuk dengan otoritas terkait seperti navigasi Kementerian Perhubungan.
“Langkah ini dinilai penting agar fasilitas yang tersedia tidak hanya ada secara fisik, tetapi benar-benar dapat digunakan untuk menunjang pengalaman wisatawan di destinasi pulau,” harapnya.
Penataan Ikon Wisata Belitung Jadi Perhatian
Selain fasilitas, penataan kawasan destinasi utama juga menjadi perhatian. Pantai Tanjung Tinggi sebagai salah satu ikon wisata Belitung dinilai perlu terus dibenahi, terutama dari sisi kebersihan dan kenyamanan visual.
Menurut Kusumah, keberadaan warung kuliner di sepanjang pantai menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat, namun tetap memerlukan penataan yang lebih rapi.
“Walaupun mungkin belum bisa direlokasi dari bibir pantai, setidaknya harus ditata lebih baik, lebih bersih, dan nyaman dipandang,” ujarnya.
Ia menilai, kawasan ini memiliki peran penting sebagai wajah pariwisata Belitung, sehingga kesan yang diterima wisatawan perlu dijaga.
Pembenahan tersebut dinilai bukan hanya soal estetika, tetapi juga bagian dari upaya menjaga citra destinasi.
Pandangan tersebut sejalan dengan kondisi di lapangan yang juga dirasakan Endro Siswono, pemilik Belitung Wonderful Tour.
Menurut Endro, penataan kawasan seperti Pantai Tanjung Tinggi menjadi pekerjaan rumah yang tidak kalah penting.
“Kita ingin wisatawan tidak hanya menikmati alam, tapi juga merasakan lingkungan yang rapi, bersih, dan punya karakter atau ciri khas tersendiri,” tegasnya.
Ia menambahkan, penataan kawasan juga perlu didukung desain yang mencerminkan identitas lokal serta regulasi yang jelas agar pengelolaan berjalan berkelanjutan.
BACA JUGA: 6 Keunikan Batu Granit Pantai Belitung dan Asal-usulnya, Bikin Wisatawan Takjub
Akses Internasional Belitung Buka Peluang Baru

Kebutuhan penguatan pengalaman wisata ini dinilai semakin relevan seiring terbukanya akses internasional ke Belitung. Penerbangan langsung Singapura–Tanjungpandan oleh Scoot menjadi salah satu pintu masuk baru bagi wisatawan mancanegara.
Dengan waktu tempuh yang lebih singkat, wisatawan kini dapat menjangkau Belitung dengan lebih mudah.
Pendekatan yang disampaikan pelaku pariwisata tersebut pada dasarnya menjadi penguatan terhadap arah konsep wisata terpadu yang telah dipaparkan pemerintah daerah.
Kepala Dinas Pariwisata Belitung, Sastra Yuni Ardi, sebelumnya menyebut pengembangan pariwisata tidak lagi bertumpu pada satu jenis wisata. Melainkan menggabungkan berbagai pengalaman dalam satu pola perjalanan atau travel pattern.
Pola ini dirancang untuk mengintegrasikan berbagai potensi. Mulai dari wisata bahari, budaya, kuliner, hingga pengalaman tematik lainnya dalam satu rangkaian perjalanan yang saling terhubung.
Arah pengembangan secara umum telah disampaikan pemerintah daerah Belitung. Sementara detail implementasi di lapangan masih terus dimatangkan bersama pelaku pariwisata.
Dalam konteks tersebut, masukan dari pelaku wisata menjadi bagian penting untuk memperkuat implementasi. Terutama pada aspek pengalaman di destinasi, penyajian atraksi, hingga kesiapan fasilitas pendukung.
Jika dirangkai, mulai dari keunikan batu granit, cerita yang menyertainya, hingga kebutuhan menghadirkan atraksi di destinasi dan pusat kota, seluruhnya mengarah pada satu hal.
Yakni bagaimana Belitung menyiapkan pengalaman wisata yang utuh dalam satu travel pattern yang terintegrasi. Bukan hanya mudah dijangkau, tetapi juga mampu memberikan kesan yang mendalam bagi setiap wisatawan yang datang.




