BELITUNGVIBE.ID, TANJUNGPANDAN – Persiapan Belitong UNESCO Global Geopark (Belitong UGGp) menghadapi revalidasi UNESCO memasuki tahap krusial.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana meminta seluruh rekomendasi yang diberikan UNESCO segera dituntaskan agar Belitung kembali meraih status kartu hijau pada proses penilaian Agustus 2026.
Penegasan tersebut disampaikan saat Kementerian Pariwisata bersama pemerintah daerah mengawal kesiapan Belitong UGGp menghadapi revalidasi yang dijadwalkan berlangsung pada 3 hingga 7 Agustus.
Menurut Menpar, proses revalidasi tidak hanya berfokus pada pemenuhan administrasi, tetapi juga menjadi tolok ukur komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam memperkuat tata kelola geopark secara berkelanjutan.
Ia berharap seluruh tindak lanjut atas rekomendasi UNESCO dapat dipastikan berjalan sesuai target, sekaligus mengidentifikasi berbagai aspek yang masih membutuhkan percepatan dari pemerintah pusat maupun daerah.
Widiyanti berharap pertemuan tersebut dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai perkembangan tindak lanjut seluruh rekomendasi UNESCO.
Menurutnya, forum itu juga menjadi kesempatan untuk mengidentifikasi berbagai hal yang masih memerlukan dukungan dan percepatan dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
“Saya berharap pertemuan hari ini dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai perkembangan tindak lanjut atas seluruh rekomendasi UNESCO,” kata Widiyanti dalam keterangan resmi, Senin 6 Juli 2026.
Sejumlah Aspek Belitong UGGp Masih Perlu Diperkuat
Menpar mengungkapkan masih terdapat sejumlah aspek Belitong UGGp yang perlu mendapat perhatian sebelum tim asesor UNESCO kembali melakukan penilaian.
Beberapa di antaranya meliputi penguatan kelembagaan pengelola geopark, dukungan anggaran, penyelesaian regulasi, kesiapan masyarakat di sekitar geosite, hingga peningkatan kualitas interpretasi dan storytelling di setiap lokasi.
Widiyanti juga menilai promosi geopark perlu dilakukan secara lebih terarah agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat.
Menurutnya, seluruh rekomendasi UNESCO harus dijawab melalui langkah konkret, bukan sekadar dituangkan dalam dokumen.
“Seluruh rekomendasi dan saran UNESCO harus dijawab dengan kerja nyata, tata kelola yang kuat, dan koordinasi yang rapi antara pemerintah daerah, pengelola geopark, komunitas, pelaku wisata, dan masyarakat,” tegasnya.
Ia menambahkan, penguatan storytelling di setiap geosite juga menjadi bagian penting agar wisatawan dapat memahami kekayaan geologi, budaya, alam, hingga kehidupan masyarakat Belitung secara utuh.
BACA JUGA: Belitong Geopark Run 2027 Digelar di Tanjung Kelayang, Belitung Siap Dongkrak Pariwisata
Kementerian Pariwisata Perkuat Pendampingan
Sebagai bentuk dukungan, Kementerian Pariwisata terus menjalankan berbagai program pendampingan untuk meningkatkan kesiapan Belitong UGGp.
Program tersebut meliputi pemasangan rambu di sejumlah geosite prioritas, penyelenggaraan seminar internasional, hingga penyediaan papan informasi dwibahasa.
Widiyanti mengatakan material papan informasi juga dirancang tahan terhadap panas dan hujan sehingga dapat dimanfaatkan wisatawan dalam jangka panjang.
Selain itu, pemerintah turut melakukan pembaruan berkala pada situs web resmi geopark.
Kementerian Pariwisata juga mendorong integrasi informasi peringatan dini cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terutama terkait potensi hujan, badai, serta gelombang tinggi.
Program edukasi Geopark Goes to School juga terus dilanjutkan guna meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap nilai penting geopark.
BACA JUGA: Jelang Revalidasi UNESCO 2026, Belitong UGGp Perkuat Posisi Global Lewat Island Talk
Pemkab Belitung Targetkan Kartu Hijau
Bupati Belitung Djoni Alamsyah Hidayat menegaskan Pemerintah Kabupaten Belitung terus mempercepat berbagai pembenahan menjelang revalidasi UNESCO.
Menurutnya, keberhasilan mengembalikan status kartu hijau Belitong UGGp hanya dapat dicapai melalui kerja sama seluruh pihak.
“Ini adalah PR kita untuk bekerja keras, untuk bersama-sama mengembalikan geopark ini menjadi hijau kembali,” kata Bupati Djoni Alamsyah.
Ia berharap sinergi antara pemerintah, pengelola geopark, komunitas, pelaku wisata, dan masyarakat dapat semakin diperkuat selama masa persiapan.
Belitong UGGp Terus Berbenah

Belitong UNESCO Global Geopark resmi bergabung dalam jaringan UNESCO setelah ditetapkan pada Sidang Dewan Eksekutif UNESCO ke-211 di Paris, Prancis, pada April 2021.
Kawasan geopark tersebut mencakup sekitar 4.800 kilometer persegi wilayah daratan dan sekitar 13.000 kilometer persegi wilayah laut, dengan 24 geosite yang tersebar di Kabupaten Belitung dan Kabupaten Belitung Timur.
Pada proses revalidasi pertama yang berlangsung 15 hingga 20 Juli 2024, tim asesor UNESCO memberikan lima rekomendasi dan empat saran perbaikan.
Hasil evaluasi itu menempatkan Belitong UGGp pada status kartu kuning sehingga berbagai pembenahan terus dipercepat menjelang revalidasi berikutnya pada Agustus 2026.
BACA JUGA: Pantai Tanjung Kelayang Bersolek, Ini Langkah Pemkab Belitung Tata Kawasan Wisata
Island Talk Jadi Bagian Persiapan
Sebelumnya, Belitong UGGp juga menggelar Seminar Internasional Island Talk sebagai salah satu langkah memperkuat kesiapan menghadapi revalidasi UNESCO.
Seminar yang berlangsung pada 25 Juni 2026 tersebut menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah, akademisi, komunitas, dan mitra internasional untuk memperkuat pengelolaan geopark kepulauan.
Sekretaris Umum Belitong UGGp sekaligus Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Belitung, Sastra Yuni Ardi, mengatakan Island Talk menjadi bagian dari strategi memperkuat posisi Belitung di tingkat internasional.
Menurutnya, forum tersebut tidak hanya membahas praktik terbaik pengelolaan geopark berkelanjutan, tetapi juga memperkenalkan Belitung kepada jaringan UNESCO Global Geopark yang tersebar di 51 negara.
Selain itu, seminar juga menjadi sarana menunjukkan komitmen Belitong UGGp terhadap tiga pilar utama UNESCO Global Geopark, yakni konservasi, edukasi, dan pembangunan berkelanjutan.
Melalui berbagai pembenahan yang terus dilakukan, Belitong UGGp menargetkan dapat kembali meraih status kartu hijau pada proses revalidasi UNESCO Agustus 2026 sekaligus memperkuat posisinya sebagai geopark kepulauan pertama di Indonesia yang diakui dunia. (*)





