BELITUNGVIBE.ID – Kisah anak kampung dari Kelapa Kampit, Belitung Timur, yang berhasil menjadi jenderal polisi membuat ratusan guru di Beltim tersentuh.
Sosok itu adalah Brigjen Pol Murry Miranda, putra daerah Negeri Laskar Pelangi yang kini menjabat Wakapolda Kepulauan Bangka Belitung (Babel).
Dari kampung kecil di Kecamatan Kelapa Kampit itulah perjalanan hidup Brigjen Murry dimulai, hingga akhirnya ia berhasil menembus pucuk karier Kepolisian Republik Indonesia (Polri).
Perjalanan hidup Brigjen Pol Murry Miranda kini menjadi inspirasi banyak orang, terutama para guru dan pelajar di Belitung Timur.
Saat hadir dalam Seminar Pendidikan Karakter PGRI Kabupaten Belitung Timur Tahun 2026 di Auditorium Zahari MZ, Brigjen Murry tidak tampil sebagai pejabat yang menciptakan jarak.
Ia justru datang membawa cerita sederhana tentang mimpi, perjuangan, dan pentingnya karakter dalam membentuk masa depan anak-anak daerah.
Sejak awal seminar dimulai, suasana hangat langsung terasa di dalam auditorium. Ratusan guru tampak antusias mendengarkan pengalaman hidup putra asli Kelapa Kampit tersebut.
Bagi banyak peserta, sosok Murry bukan sekadar perwira tinggi Polri. Ia menjadi bukti nyata bahwa anak daerah juga mampu berdiri di posisi tertinggi jika memiliki disiplin, pendidikan, dan karakter yang kuat.
“Sebenarnya ini kegiatan sangat luar biasa. Mungkin ini baru sekali diinisiasi oleh Beltim dan ini perlu dicontoh oleh kabupaten-kabupaten lain bagaimana menghargai peran guru,” kata Murry, dilansir dari beltim.go.id, Selasa 12 Mei 2026.
BACA JUGA: Juara Umum FLS3N Beltim 2026, SMAN 1 Manggar Pertahankan Tahta 4 Tahun Berturut
Bukan Teori, Tapi Cerita Kehidupan
Dalam seminar bertema “Optimalisasi Pendidikan Karakter untuk Membentuk Generasi Unggul dan Berprestasi” itu, Brigjen Murry memilih berbicara dengan pendekatan yang sederhana dan membumi.
Jenderal polisi kelahiran 27 Februari 1974 tersebut tidak banyak memaparkan teori pendidikan.
Sebaliknya, alumnus Akademi Kepolisian tahun 1996 itu lebih banyak mengajak para guru memahami tantangan nyata pembentukan karakter anak di era digital.
Menurutnya, guru sebenarnya sudah memahami konsep pendidikan karakter. Tantangan terbesar justru ada pada konsistensi penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
“Tadi saya tidak menyampaikan materi secara teori. Saya mencoba menggali bagaimana solusi dari persoalan pembentukan karakter yang terjadi sekarang ini. Guru-guru sebenarnya sudah tahu, tinggal bagaimana menerapkannya,” ujarnya.
Murry menegaskan, murid tidak hanya belajar dari buku pelajaran atau materi di ruang kelas. Anak-anak, kata dia, lebih mudah meniru sikap, kebiasaan, dan perilaku guru yang mereka lihat setiap hari.
Karena itu, jenderal polisi yang pernah menjadi kandidat Hoegeng Awards 2022 mengajak para pendidik terus menjaga keteladanan.
“Teruslah tingkatkan prestasi, tingkatkan kedisiplinan, dan jadilah teladan bagi murid-muridnya. Yang paling penting adalah bagaimana kita mencintai pekerjaan dan kita dicintai oleh murid-murid,” pesannya.
Dari SMP Kelapa Kampit Hingga Jadi Jenderal
Perjalanan hidup Brigjen Pol Murry Miranda memang dekat dengan kisah perjuangan anak-anak daerah.
Ia lahir di Kelapa Kampit pada 27 Februari 1974 dan tumbuh besar di Belitung Timur sebelum melanjutkan pendidikan ke SMA Taruna Nusantara Magelang.
Sebelum menjadi jenderal polisi, Murry pernah duduk sebagai siswa di SMP Negeri Kelapa Kampit.
Sekolah itu pula yang kembali ia kunjungi pada 20 Januari 2026 lalu dalam suasana penuh haru dan nostalgia.
Di hadapan para siswa, ia mengingat kembali masa kecilnya sebagai anak kampung yang memiliki mimpi besar.
“Saya dulu berasal dari sekolah ini. Waktu sekolah, saya bermimpi punya jabatan tinggi di Bangka Belitung, dan alhamdulillah hari ini mimpi itu tercapai,” ungkapnya.
Pesan paling menyentuh datang ketika ia meminta para siswa tidak minder dengan asal-usul mereka.
“Jangan minder jadi anak kampung. Saya juga anak kampung, dan alhamdulillah bisa sampai di titik ini. Terus belajar, berjuang, dan kejar mimpi kalian,” katanya.
BACA JUGA: Film Pendek Siswa SMAN 1 Manggar Juara 2 Nasional 2026, Judulnya Bikin Juri Tersentuh
Seminar Penuh Haru dan Motivasi Belitung Timur

Seminar pendidikan karakter yang PGRI Belitung Timur tersebut berlangsung interaktif dan penuh kedekatan emosional.
Brigjen Murry beberapa kali melempar pertanyaan kepada peserta dan berinteraksi langsung dengan guru-guru di ruangan.
Ia bahkan memberikan bingkisan hingga uang jajan kepada guru honorer, mantan gurunya, serta peserta yang berhasil menjawab pertanyaan. Momen itu membuat suasana seminar terasa lebih cair dan menyentuh.
Banyak peserta terlihat tersenyum. Bahkan beberapa tampak terharu mendengar perjalanan hidup putra daerah Beltim, Negeri Laskar Pelangi tersebut.
Di tengah perkembangan teknologi dan penggunaan gawai yang semakin sulit dibatasi, diskusi tentang pendidikan karakter terasa sangat relevan.
Anak-Anak Sekarang Butuh Keteladanan
Wakil Bupati Belitung Timur Khairil Anwar yang membuka seminar turut memberikan perhatian terhadap pentingnya pembentukan karakter anak.
Menurutnya, pendidikan karakter tidak selalu bergantung pada besarnya anggaran. Yang paling penting adalah keteladanan dan konsistensi para pendidik.
“Materi yang disampaikan Pak Wakapolda sebenarnya tinggal action saja. Guru-guru kita sebenarnya sudah mumpuni, tinggal implementasinya kepada murid melalui contoh pribadi,” kata Khairil.
Ia menilai anak-anak memiliki sifat mudah meniru lingkungan di sekitar mereka. Oleh sebab itu, pembentukan karakter harus dimulai sejak dini melalui kebiasaan baik dan kedisiplinan.
“Nah itulah masa depan. Karena anak-anak itu sifatnya meniru. Kalau diarahkan dan dicontohkan dengan baik, maka karakter itu akan terbentuk,” ujarnya.
Wakil Bupati Khairil juga menyoroti kebiasaan anak-anak yang kini semakin lekat dengan telepon genggam.
Menurutnya, penggunaan gadget berlebihan perlu menjadi perhatian serius bersama antara sekolah, keluarga, dan pemerintah daerah.
“Anak-anak sekarang ini hobinya main HP. Nah ini perlu pembatasan dan penguatan muatan lokal supaya mereka tidak kehilangan karakter dan jati dirinya,” ungkapnya.
Meski demikian, Khairil optimistis para guru di Beltim mampu menjawab tantangan tersebut jika dilakukan secara bersama-sama antara sekolah, pemerintah daerah, dan keluarga.
“Pembentukan karakter ini tidak semuanya harus pakai duit. Ini tanggung jawab besar kami pemerintah daerah bersama guru-guru di Beltim,” tegasnya.
Ia berharap seminar pendidikan karakter itu menjadi ruang berbagi pengalaman dan inovasi bagi para guru dalam memperkuat kualitas pendidikan serta membentuk generasi muda Beltim yang unggul dan berkarakter.
BACA JUGA: Kisah Ella Suherman Angkat Potensi Lidi Nipah Belitung Jadi Karya Bernilai Ekonomi Tinggi
Bukti Anak Daerah Bisa Berprestasi
Karier Brigjen Pol Murry Miranda di institusi Polri terbilang panjang dan penuh pengalaman. Sebagai putra daerah asal Belitung Timur, perjalanan kariernya juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Negeri Laskar Pelangi.
Ia mengawali pengabdiannya di Polda Sumatera Selatan (Sumsel) dengan berbagai jabatan, mulai dari Kapolsek, Kasatreskrim, hingga Wakapolres.
Perjalanan kariernya kemudian terus meningkat. Brigjen Murry pernah dipercaya menjabat Kapolres Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 2015 hingga 2018.
Setelah itu, ia melanjutkan tugas sebagai Irwasda Polda Maluku Utara hingga 2024, sebelum dipercaya menjadi Irwasda Polda Nusa Tenggara Timur pada 2025.
Kariernya kemudian mencapai titik penting ketika dipercaya menjabat Wakapolda Kepulauan Bangka Belitung pada Januari 2026.
Tak hanya dikenal sebagai perwira tinggi Polri, Brigjen Murry juga sempat mendapat perhatian luas lewat aksi sosialnya saat bertugas di Rote Ndao. Ia aktif membantu warga kurang mampu melalui program bedah rumah dan bantuan sembako.
Dedikasi sosial itu membuat namanya masuk sebagai salah satu kandidat populer Hoegeng Awards 2022.
Masyarakat Rote Ndao bahkan menganugerahkan gelar adat “Maneleo Inahuk” sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan pengabdiannya kepada masyarakat.
Di bidang profesional, Brigjen Murry juga memiliki sejumlah sertifikasi di bidang audit dan manajemen risiko, seperti CIAS, CPFI, dan CRMS.
Kini, perjalanan hidup Brigjen Pol Murry Miranda kembali menjadi inspirasi di tanah kelahirannya sendiri.
Dari Kecamatan Kelapa Kampit, Kabupaten Belitung Timur, ia membuktikan bahwa mimpi besar tidak pernah dibatasi oleh kampung halaman.





