BELITUNGVIBE.ID – Inilah kisah Ella Suherman dalam mengangkat potensi lidi nipah Belitung menjadi karya bernilai ekonomi tinggi. Berangkat dari bahan alami yang melimpah di Negeri Laskar Pelangi, ia melihat peluang dari sesuatu yang kerap terabaikan.
Dari lidi nipah tersebut, ia mampu menciptakan kerajinan bernilai ekonomi sekaligus membuka peluang pengembangan wisata kreatif berbasis budaya lokal di tanah timah.
Di tengah lanskap pesisir Pulau Belitung yang dipenuhi pohon nipah, cerita ini tumbuh menjadi inspirasi. Bukan sekadar tentang kerajinan tangan, tetapi tentang bagaimana potensi lokal bisa diolah menjadi karya yang memberi nilai tambah bagi masyarakat.
Dari sesuatu yang kerap dianggap sepele, ia justru melihat peluang. Dari lidi nipah yang berjatuhan, ia menemukan jalan untuk berkarya.
“Awalnya hanya dari kegiatan di Persit dan coba-coba belajar sendiri. Tapi ternyata lidi nipah ini bisa diolah jadi produk yang punya nilai jual,” kata Ella Suherman, Senin 6 April 2026.
Dari Ibu Rumah Tangga ke Perajin Kreatif
Ella Suherman, yang juga dikenal dengan nama Ella Yunita, menjalani keseharian sebagai ibu rumah tangga di Kecamatan Tanjungpandan. Ia merupakan istri dari Serka Suherman sekaligus aktif sebagai anggota Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XLI Dim 0414 Belitung.
Di sela aktivitas keluarga, ia mulai menekuni dunia kerajinan. Bukan karena rencana besar, melainkan berangkat dari rutinitas organisasi yang dijalaninya.
Melalui Seksi Kebudayaan Persit, setiap anggota didorong untuk menghasilkan karya yang kemudian dipamerkan secara berkala. Dari sinilah ketertarikannya terhadap kerajinan mulai tumbuh.
Seiring waktu, apa yang awalnya sekadar aktivitas rutin perlahan berubah menjadi keseriusan.
Terinspirasi dari Alam Belitung

Belitung dikenal dengan kekayaan alam pesisirnya. Salah satunya adalah pohon nipah yang tumbuh melimpah di berbagai wilayah.
Bagi sebagian orang, nipah mungkin hanya bagian dari lanskap. Namun bagi Ella, di situlah ia melihat peluang.
Ia belajar secara otodidak. Tanpa pelatihan formal, ia mencoba memahami karakter bahan, mengulang proses, lalu memperbaiki hasilnya sedikit demi sedikit.
Dari lidi nipah, ia mulai membuat anyaman. Seiring waktu, karyanya berkembang menjadi kap lampu yang unik, estetik, dan memiliki karakter lokal yang kuat.
Proses Panjang di Balik Sebuah Karya
Di balik satu produk kerajinan, ada proses yang tidak sederhana.
Semua dimulai dari pemilihan bahan. Lidi nipah diambil dari daun muda agar lebih lentur dan mudah dibentuk. Daun kemudian diserut hingga tersisa bagian lidi, lalu dijemur sekitar tiga hari hingga benar-benar kering.
“Setelah itu, lidi dibersihkan kembali dan diukur sesuai pola anyaman yang diinginkan,” ujar perempuan yang dikenal dengan nama kecil Ella Yunita.
Untuk menjaga bentuk tetap kokoh, bagian tengah diperkuat menggunakan kawat. Sementara itu, tali agel atau benang rajut digunakan untuk mengikat sekaligus merapikan struktur anyaman.
Proses ini menuntut ketelatenan. Tidak bisa tergesa-gesa.
Dari rangkaian tahapan tersebut, lahirlah berbagai produk. Mulai dari kap lampu, keranjang, vas bunga, hingga hiasan dinding yang memiliki nilai fungsi sekaligus estetika.
BACA JUGA: 6 Keunikan Batu Granit Pantai Belitung dan Asal-usulnya, Bikin Wisatawan Takjub
Dari Karya Lokal ke Panggung Apresiasi
Ketekunan Ella, istri dari prajurit TNI AD Serka Suherman perlahan mulai membuahkan hasil.
Karya kap lampu dari lidi nipah buatannya pernah dipamerkan dalam kunjungan kerja Ketua Umum Persit Kartika Chandra Kirana ke Koorcab Rem 043/Garuda Jaya.
Tidak hanya dipamerkan, karyanya juga terpilih sebagai salah satu produk unggulan yang dipajang di kediaman Ketua Umum. Sebuah pencapaian yang menjadi kebanggaan tersendiri.
Apresiasi tidak berhenti di situ. Karyanya juga mendapat perhatian dalam berbagai kegiatan di lingkungan PD II/Sriwijaya.
Hal ini menjadi penanda bahwa kerajinan berbasis bahan lokal tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga mampu bersaing secara ekonomi.
Potensi Wisata Kreatif dari Lidi Nipah
Cerita Ella tidak berhenti pada produksi kerajinan. Di balik itu, tersimpan potensi yang lebih besar.
Kerajinan lidi nipah dapat berkembang menjadi bagian dari wisata kreatif di Belitung, melengkapi daya tarik alam yang selama ini dikenal luas.
Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati pantai, tetapi juga bisa melihat langsung proses pembuatan kerajinan. Belajar menganyam, hingga membawa pulang produk khas sebagai oleh-oleh.
Pengalaman ini memberi nilai tambah. Tidak hanya pada produk, tetapi juga pada cerita, proses, dan interaksi yang dirasakan wisatawan.
Di titik inilah, potensi ekonomi kreatif berbasis budaya lokal mulai terbentuk dan membuka peluang baru bagi masyarakat sekitar.
Lebih dari Sekadar Kerajinan
Kerajinan lidi nipah di Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), bukan hanya soal estetika.
Bahan yang digunakan berasal dari alam tentunya lebih ramah lingkungan. Hal ini bisa menjadi alternatif untuk mengurangi penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari.
Di sisi lain, proses pembuatannya mengandung nilai edukatif. Mengajarkan ketelatenan, kreativitas, serta kemampuan membaca potensi dari lingkungan sekitar.
Kerajinan tangan tersebut bukan sekadar karya, tetapi juga sarana pembelajaran yang tumbuh dari kearifan lokal.
Kini, bagi Ella, lidi nipah bukan lagi sekadar bahan, tapi telah menjadi simbol perjalanan. Tentang keberanian memulai, proses belajar yang tidak selalu mudah, hingga konsistensi dalam berkarya.
Dari pesisir Pulau Belitung Negeri Laskar Pelangi, kisah ini terus bergerak. Membawa pesan bahwa potensi lokal tidak selalu harus dicari jauh.
Kadang, potensi itu sudah ada di sekitar. Tinggal bagaimana cara melihatnya, lalu mengolahnya menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi. (Muchlis)




