BELITUNGVIBE.ID – Sebagai gerbang wisata Belitung, terminal baru Bandara H.AS Hanandjoeddin Tanjungpandan diharapkan mampu mencerminkan identitas khas daerah.
Tidak sekadar modern, bandara ini juga dinilai wajib menghadirkan karakter lokal yang kuat bagi wisatawan sejak pertama kali tiba di Pulau Belitung.
Harapan itu menguat seiring kembali dibukanya penerbangan internasional langsung Singapura–Belitung yang kini mulai melayani rute reguler dua kali dalam sepekan.
Konektivitas internasional tersebut dinilai menjadi momentum penting kebangkitan sektor pariwisata Belitung setelah beberapa tahun mengalami perlambatan.
Di tengah meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara, terminal bandara dinilai memiliki peran lebih besar dari sekadar tempat kedatangan dan keberangkatan penumpang.
Bandara kini dipandang sebagai gerbang utama wisata dunia yang membentuk kesan awal wisatawan terhadap suatu daerah.
Ketua DPRD Belitung, Vina Cristyn Ferani, menegaskan terminal baru Bandara H.AS Hanandjoeddin harus mampu menghadirkan identitas Belitung secara kuat sejak pertama kali wisatawan tiba.
“Bandara itu wajah pertama Belitung, jadi harus benar-benar mencerminkan identitas daerah,” ujar Vina saat silaturahmi bersama wartawan di Kong Djie Bintang, Kamis 7 Mei 2026.
Menurut politisi PDI Perjuangan tersebut, pembangunan terminal baru tidak cukup hanya megah atau modern secara fisik.
Lebih dari itu, bangunan tersebut harus memiliki karakter yang kuat dan mampu meninggalkan kesan mendalam bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Pengalaman Pertama Wisatawan Tiba di Belitung

Vina menilai pengalaman wisatawan saat tiba di Tanjungpandan Belitung seharusnya sudah dimulai sejak berada di bandara.
Karena itu, ia berharap terminal baru nantinya mampu menghadirkan nuansa lokal melalui berbagai elemen visual maupun atmosfer pendukung lainnya.
Mulai dari desain bangunan, ornamen interior, alunan musik daerah, hingga aroma khas lokal dinilai dapat menjadi bagian penting dalam membangun identitas bandara.
“Begitu turis datang, mereka langsung tahu ini Belitung. Dari yang mereka lihat, dengar, sampai yang mereka rasakan,” kata Vina.
Menurutnya, konsep seperti ini penting karena wisata modern kini tidak hanya menjual destinasi, tetapi juga pengalaman menyeluruh.
Wisatawan mancanegara umumnya mencari pengalaman yang autentik dan memiliki karakter lokal yang kuat.
Oleh sebab itu, terminal baru Bandara Belitung diharapkan tidak tampil generik seperti bandara pada umumnya.
BACA JUGA: Hotel Instagramable di Belitung Ini Cocok untuk Wisatawan Rute Singapura
Daun Simpor hingga Tarsius Jadi Identitas Visual
Dalam konsep yang diharapkan Ketua DPRD Belitung, unsur-unsur lokal perlu diangkat secara lebih kuat ke dalam desain terminal.
Vina menyebut inspirasi dapat diambil dari arsitektur rumah adat Belitung, ukiran kayu tradisional, hingga motif flora dan fauna endemik daerah.
Beberapa unsur lokal yang disebut antara lain daun simpor, karamunting, hingga tarsius yang selama ini menjadi bagian dari identitas alam Belitung.
Elemen-elemen tersebut dinilai mampu memperkuat karakter visual terminal sekaligus membedakannya dari bandara di daerah lain.
Menurutnya, perpaduan desain modern dengan sentuhan budaya lokal akan menjadi nilai penting dalam memperkuat citra Belitung sebagai destinasi wisata unggulan.
“Jadi bukan hanya megah, tetapi juga punya karakter khas Belitung,” ujarnya.
Saat ini, desain terminal baru masih dalam tahap penyusunan oleh pihak PT Angkasa Pura Indonesia dan belum difinalisasi.
Maka dari itu, DPRD berharap berbagai masukan terkait identitas lokal masih bisa diakomodasi dalam rancangan akhir nantinya.
“Desainnya masih digodok, belum final. Kita berharap hasil akhirnya benar-benar mencerminkan Belitung,” kata Vina.
BACA JUGA: Registrasi IMEI Wajib di Bandara Belitung, Ini Cara dan Batas Waktunya
Terminal Baru Bandara Gerbang Wisata Belitung

DPRD Belitung menilai kesiapan infrastruktur bandara menjadi faktor penting dalam menghadapi meningkatnya konektivitas internasional.
Terlebih setelah penerbangan reguler Singapura–Belitung kembali dibuka dua kali dalam sepekan, yakni setiap Minggu dan Rabu.
Menurut Vina, pembangunan terminal baru harus dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi sektor pariwisata Belitung, Negeri Laskar Pelangi.
Ia berharap proyek tersebut dapat direalisasikan paling lambat pada tahun 2027 atau 2028.
Selain meningkatkan kapasitas layanan penumpang, terminal baru juga diharapkan mampu memperkuat citra Belitung di mata wisatawan internasional.
Karena itu, ia menilai kolaborasi antara Angkasa Pura, pemerintah daerah, DPRD, hingga pelaku wisata menjadi sangat penting.
Dengan perencanaan yang matang, terminal baru Bandara H.AS Hanandjoeddin diharapkan dapat menjadi gerbang utama pariwisata Belitung menuju level yang lebih tinggi.
Evaluasi Jadwal Penerbangan Singapura–Belitung
Dalam kesempatan yang sama, Anggota DPR RI Rudianto Tjen juga menyoroti perkembangan penerbangan internasional langsung Singapura–Belitung.
Ia mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Belitung yang dinilai berhasil membuka kembali akses internasional menuju Pulau Belitung.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada pemerintah daerah Belitung yang sudah berupaya meningkatkan pariwisata dengan melobi penerbangan dari Singapura. Ini langkah yang sangat bagus,” katanya.
Meski demikian, ia menilai masih ada sejumlah hal yang perlu dievaluasi agar penerbangan tersebut lebih efektif menarik wisatawan mancanegara.
Salah satunya terkait jadwal penerbangan dari Bandara Changi Singapura pukul pukul 05.45 dinilai terlalu pagi bagi wisatawan.
Menurut Rudianto Tjen, jam keberangkatan yang terlalu dini bisa membuat wisatawan kurang nyaman saat melakukan perjalanan.
“Kalau penerbangan dari Singapura terlalu pagi, tentu wisatawan harus berangkat ke bandara dini hari. Ini perlu dinegosiasikan ulang supaya penumpang lebih banyak dan wisatawan lebih nyaman datang ke Belitung,” katanya.
Rudianto berharap evaluasi jadwal dapat dilakukan bersama maskapai agar konektivitas internasional tersebut lebih berkelanjutan.
Hotel dan Dunia Usaha Diminta Ikut Mendukung

Selain persoalan jadwal penerbangan, Rudianto juga menilai dukungan dunia usaha menjadi faktor penting agar rute internasional Singapura–Belitung tetap berjalan stabil.
Menurutnya, pembiayaan dan promosi tidak bisa sepenuhnya bergantung pada pemerintah daerah melalui APBD.
Karena itu, ia mendorong keterlibatan hotel, pelaku usaha, hingga perusahaan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
“Kalau perlu kita cari subsidi melalui CSR perusahaan-perusahaan di sini untuk mendukung penerbangan ini. Hotel-hotel juga harus ikut berkontribusi karena ini kepentingan bersama,” pintanya.
Ia menilai pengembangan sektor pariwisata tidak akan berjalan maksimal tanpa kolaborasi yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
Wartawan Belitung Dinilai Punya Peran Penting
Dalam pertemuan tersebut, Rudianto juga menyoroti pentingnya komunikasi antara pemerintah daerah, DPRD, partai politik, hingga wartawan.
Menurutnya, wartawan Kabupaten Belitung memiliki posisi penting sebagai penyambung informasi masyarakat di daerah.
“Saya selalu mendapatkan banyak informasi dari teman-teman wartawan, mulai dari kebutuhan masyarakat hingga persoalan di daerah,” katanya.
Ia berharap komunikasi dan hubungan baik antara berbagai pihak terus dijaga agar persoalan di masyarakat dapat diselesaikan bersama.
“Kalau misal ada persoalan di masyarakat Pulau Belitung, paling tidak kita bisa bersama-sama membantu menyelesaikannya,” tutup Rudianto Tjen.





