TANJUNGPANDAN, BELITUNGVIBE.ID – Strategi wisata terpadu Belitung mulai dimatangkan untuk menyambut pembukaan penerbangan internasional rute Singapura–Tanjungpandan oleh Scoot.
Langkah ini menjadi bagian penting dalam mengoptimalkan peluang masuknya wisatawan mancanegara melalui jalur langsung dari hub global.
Dinas Pariwisata Kabupaten Belitung menyiapkan pendekatan baru yang tidak lagi bertumpu pada satu jenis wisata. Fokusnya diperluas.
Pengalaman wisata di Negeri Laskar Pelangi dibuat lebih beragam. Tujuannya, agar wisatawan tinggal lebih lama, belanja lebih banyak, dan uangnya berputar di daerah.
Kepala Dinas Pariwisata Belitung, Sastra Yuni Ardi, menegaskan bahwa potensi Belitung tidak hanya sebatas wisata bahari. Ada budaya. Ada kuliner. Ada juga pengalaman tematik yang bisa dijual ke pasar internasional.
“Belitung punya banyak potensi. Pariwisata bukan hanya tanggung jawab dinas, tapi harus melibatkan semua pihak, mulai dari pelaku usaha, asosiasi, hingga media,” ujarnya dalam konferensi pers, Senin 13 April 2026.
Dari Hopping Island ke Wisata Terpadu Belitung

Selama ini, Belitung dikenal dengan wisata hopping island. Wisatawan diajak mengelilingi pulau-pulau cantik di pesisir utara, atau tepatnya di kawasan kecamatan Sijuk.
Salah satunya Pulau Lengkuas, destinasi primadona yang ikonik dan selalu jadi favorit para pelancong. Ikonik. Kuat. Tapi belum cukup.
Ke depan, konsep wisata diperluas melalui travel pattern yang disusun bersama pelaku industri. Pola perjalanan ini menggabungkan berbagai pengalaman dalam satu paket.
Mulai dari wisata bahari, budaya, gastronomi, hingga wisata tematik lainnya. “Wisatawan tidak hanya menikmati laut. Tapi juga budaya, kuliner, dan pengalaman lainnya,” kata Sastra.
Pendekatan ini dirancang agar wisatawan tidak sekadar datang dan pergi. Tapi tinggal lebih lama. Menjelajah lebih banyak. Dan tentu saja, memberikan dampak ekonomi lebih besar.
Paket Terintegrasi dan Open Trip Disiapkan
Untuk mendukung strategi tersebut, Dispar bersama pelaku wisata Belitung menyiapkan paket perjalanan terintegrasi. Konsepnya fleksibel. Ada open trip. Ada juga rute yang sudah dikurasi.
Setiap paket disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Termasuk kesiapan destinasi, transportasi, dan layanan pendukung.
Promosi pun sudah lebih dulu berjalan. Bahkan sebelum rute internasional diumumkan secara resmi, asosiasi pariwisata telah aktif melakukan promosi ke Singapura dan sejumlah negara Asia Tenggara.
Wilayah Bangka yang merupakan bagian dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung juga ikut dilibatkan dalam penguatan promosi ini.
Belitung dan Beltim Disiapkan Satu Paket

Ke depan, sinergi antarwilayah pulau Belitung akan diperkuat. Terutama antara Kabupaten Belitung dan Belitung Timur (Beltim).
Hal ini disesuaikan dengan pola perjalanan wisatawan yang diperkirakan akan mengambil paket 4 hari 3 malam atau 5 hari 4 malam.
“Dua wilayah di Pulau Belitung ini harus bersinergi. Supaya pengalaman wisatawan lebih optimal,” tegas Sastra.
Dengan pola tersebut, wisatawan mancanegara tidak hanya berpusat di satu titik. Tapi menjelajah lebih luas dalam satu perjalanan.
BACA JUGA: Rute Penerbangan Belitung–Singapura Dibuka 3 Mei 2026, Tiket Mulai Rp500 Ribuan
Rute Transportasi Wisata Mulai Disusun
Dukungan tidak hanya datang dari sektor pariwisata. Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Belitung juga ikut bergerak.
Kepala Dishub Belitung Firdaus Zamri, mengatakan pihaknya telah menyiapkan skema transportasi wisata yang lebih terintegrasi.
Penambahan armada, termasuk bus pariwisata, telah dibahas bersama Balai Pengelola Transportasi Darat.
Rute perjalanan juga mulai disusun. Terintegrasi. Dari bandara, ke terminal, lanjut ke hotel, hingga destinasi wisata.
Beberapa destinasi utama yang masuk dalam rute ini antara lain, Pantai Tanjung Kelayang, Tanjung Tinggi, dan Pelepak Pute di Kecamatan Sijuk.
Konsepnya sederhana tapi penting. Wisatawan bisa berangkat dan kembali dengan kendaraan yang sama.
“Wisatawan yang diantar ke destinasi, bisa kembali dengan kendaraan yang sama. Itu yang kita atur,” jelas Firdaus.
Armada Disiapkan, Layanan Standby
Untuk memastikan layanan berjalan lancar, Dinas perhubungan juga menyiapkan kendaraan standby di lapangan.
Koordinasi lintas instansi sudah dilakukan. Surat resmi juga telah dikirimkan. Armada dipastikan segera tersedia. “Kesiapan di lapangan sudah kita siapkan, termasuk kendaraan standby,” tambahnya.
Fokus awal masih di wilayah Kabupaten Belitung. Tujuannya agar operasional benar-benar matang sebelum diperluas.
BACA JUGA: Hotel Belitung View Pulau Lengkuas: Sensasi Menginap di Dataran Tinggi Tanjung Binga
Tiket Mulai Rp500 Ribuan, Jadwal Pagi Jadi Keunggulan

Antusiasme pasar mulai terlihat sejak penjualan tiket dibuka. Berdasarkan pantauan di aplikasi Traveloka, harga tiket rute Tanjungpandan (TJQ) menuju Singapura (SIN) dibanderol mulai Rp500 ribuan untuk sekali jalan.
Sementara dari Singapura ke Belitung, tarif dibuka mulai 99 dolar Singapura atau sekitar Rp1,3 jutaan.
Penerbangan dari Bandara Changi berangkat pukul 05.45 waktu setempat dan tiba di Bandara H.AS Hanandjoeddin sekitar pukul 06.15 WIB.
Sebaliknya, dari Tanjungpandan berangkat pukul 06.50 WIB dan tiba di Singapura sekitar pukul 09.30 waktu setempat. Durasi penerbangan sekitar 1 jam 40 menit tanpa transit.
Rute ini dilayani dua kali dalam sepekan, setiap Rabu dan Minggu. Jadwal pagi menjadi nilai tambah. Wisatawan punya waktu lebih panjang untuk langsung beraktivitas setibanya di Belitung.
Peluang Besar, Persiapan Jadi Kunci
Dengan harga yang relatif terjangkau dan waktu tempuh singkat, rute Singapura–Tanjungpandan diproyeksikan menjadi jalur favorit.
Tidak hanya bagi wisatawan mancanegara. Tapi juga wisatawan domestik yang memanfaatkan Singapura sebagai hub perjalanan.
Namun satu hal yang jadi penentu tetap sama. Kesiapan. Destinasi harus siap. Layanan harus siap. Pengalaman wisata juga harus benar-benar terasa.
Di sinilah strategi wisata terpadu Belitung diuji. Bukan sekadar menyambut wisatawan dari berbagai belahan dunia, tapi memastikan mereka ingin kembali.



