BELITUNGVIBE.ID, SIJUK – Pengembangan pariwisata Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), kembali menjadi perhatian masyarakat di sejumlah kawasan wisata.
Warga Tanjung Binga, Tanjung Kelayang, dan Tanjung Tinggi menyampaikan berbagai aspirasi sekaligus menagih komitmen agar manfaat pembangunan pariwisata dapat dirasakan masyarakat lokal.
Isu yang disorot mencakup akses publik, aktivitas nelayan, ruang usaha pedagang, hingga berbagai komitmen yang dinilai perlu direalisasikan dalam pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Tanjung Kelayang.
Berbagai persoalan tersebut mengemuka dalam Dialog Publik bertema “Menuju Pariwisata yang Sukses dengan Semangat Hari Kebangkitan Nasional ke-118” di Pendopo Tanjung Kelayang, Desa Keciput, Kecamatan Sijuk, Sabtu 30 Mei 2026.
Bagi masyarakat, perkembangan sektor wisata Belitung memang penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Namun di sisi lain, pembangunan juga dinilai harus tetap memberikan ruang bagi masyarakat lokal agar dapat merasakan manfaatnya secara langsung.
BACA JUGA: 8 Tahun La Lucia Boutique Belitung, Hotel Instagramable Tebar Promo Anniversary Spesial
Dialog tersebut menjadi ruang bagi warga untuk menyampaikan berbagai harapan terkait pengembangan pariwisata Belitung. Persoalan yang mengemuka antara lain akses publik, peluang kerja, dan aktivitas nelayan.
Selain itu, masyarakat juga meminta kepastian atas berbagai komitmen yang pernah disampaikan dalam proses pengembangan kawasan wisata.
Ketua Masyarakat Peduli Belitung (MPB), Hadi Adjin, mengatakan seluruh rekomendasi merupakan hasil penyerapan aspirasi masyarakat dari sejumlah kawasan yang terdampak langsung oleh pengembangan pariwisata.
Ia menjelaskan, berbagai poin mengemuka memiliki keterkaitan dengan kesepakatan yang pernah dibahas dalam Sosialisasi dan Konsultasi Publik Studi AMDAL KEK Pariwisata Tanjung Kelayang pada 2018.
“Kami mendukung KEK dan tidak menolak investor. Namun investor yang hadir harus taat hukum, transparan, dan berpihak kepada masyarakat,” kata Hadi dikutip dari trawangnews.com.
BACA JUGA: Belitong Geopark Run 2027 Digelar di Tanjung Kelayang, Belitung Siap Dongkrak Pariwisata
Warga Tanjung Binga Soroti Akses dan Aktivitas Nelayan

Dalam dialog tersebut, masyarakat Tanjung Binga menyampaikan sejumlah aspirasi yang berkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat pesisir.
Salah satu yang paling banyak disorot adalah akses menuju Pantai Penarikan yang selama ini menjadi perhatian warga.
Masyarakat berharap akses jalan darat menuju pantai tersebut dapat dibuka tanpa syarat sebagaimana kondisi sebelum pengembangan kawasan berlangsung.
Selain itu, warga juga meminta agar kawasan laut di depan KEK tetap menjadi ruang publik dan tidak mengganggu aktivitas nelayan yang selama ini menggantungkan hidup dari sektor perikanan.
Persoalan kesempatan kerja juga menjadi perhatian.
Warga berharap tenaga kerja lokal mendapatkan prioritas dalam proses perekrutan yang dilakukan investor maupun pengelola kawasan.
Masyarakat juga meminta adanya kejelasan terkait legalitas lahan, jadwal pembangunan kawasan, realisasi ruang publik sesuai dokumen AMDAL, hingga komitmen berbagai janji yang pernah disampaikan kepada masyarakat.
Tidak kalah penting, warga turut mengusulkan pembangunan dermaga tambat labuh permanen untuk mendukung aktivitas nelayan setempat.
Tanjung Kelayang Ingin Area Publik Tetap Terjaga
Sementara itu, masyarakat Tanjung Kelayang, Desa Keciput, menyoroti pentingnya menjaga ruang publik di kawasan wisata yang menjadi ikon pariwisata Belitung tersebut.
Warga berharap area wisata Tanjung Kelayang seluas sekitar empat hektare tetap berada dalam pengelolaan pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat setempat.
Masyarakat menilai kawasan tersebut sebaiknya tetap menjadi ruang publik yang dapat dimanfaatkan bersama dan tidak seluruhnya diserahkan kepada investor.
Selain persoalan pengelolaan kawasan, warga juga mengusulkan pembangunan akses jalan serta dermaga tambat perahu untuk mendukung aktivitas nelayan.
Kebutuhan dermaga khusus bagi kapal dan perahu wisata juga menjadi salah satu usulan yang dinilai penting untuk menunjang perkembangan sektor pariwisata.
Pedagang Tanjung Tinggi Soroti Penataan Kawasan
Berbeda dengan dua kawasan lainnya, masyarakat Tanjung Tinggi lebih banyak menyoroti persoalan penataan kawasan wisata yang saat ini sedang berjalan.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah bentuk bangunan untuk para pedagang.
Menurut warga, desain bangunan yang direalisasikan dinilai berbeda dengan konsep yang sebelumnya pernah dipaparkan dalam pertemuan bersama pemerintah daerah, pemerintah desa, dan perwakilan pedagang.
Selain itu, masyarakat juga mempertanyakan penetapan tarif sewa bangunan yang disebut dilakukan secara sepihak dan dianggap cukup memberatkan pelaku usaha kecil di kawasan wisata tersebut.
Persoalan ini dinilai perlu menjadi perhatian agar penataan kawasan wisata tidak justru mengurangi ruang usaha masyarakat lokal yang selama ini menjadi bagian penting dari aktivitas pariwisata Belitung.
BACA JUGA:Gerbang Wisata Belitung, Terminal Baru Bandara Wajib Cerminkan Identitas Daerah
Pariwisata Belitung Diminta Tumbuh Bersama Masyarakat
Hadi Adjin berharap seluruh rekomendasi yang telah dirumuskan dapat menjadi bahan pertimbangan pemerintah daerah, pengelola kawasan, maupun investor.
Menurutnya, pembangunan pariwisata yang berhasil tidak hanya diukur dari jumlah wisatawan atau investasi yang masuk, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat dapat merasakan manfaatnya.
“Kami ingin pariwisata Belitung berkembang dengan baik, namun tetap memperhatikan hak-hak masyarakat dan keberlanjutan kawasan,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya dialog publik tersebut.
Menurutnya, komunikasi yang terbuka antara masyarakat, pemerintah, dan pelaku usaha menjadi salah satu kunci dalam membangun sektor pariwisata yang berkelanjutan di Pulau Belitung.
Dialog publik ini turut dihadiri Wakil Bupati Belitung Syamsir, mantan Bupati Belitung Sahani Saleh, Sekretaris Daerah Kabupaten Belitung Marzuki, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Belitung Sastra Yuni Ardi.
Hadir pula Kepala DPMPTSP Kabupaten Belitung Septi Anggriani, unsur pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta warga dari berbagai kawasan wisata yang terdampak pengembangan pariwisata.
Seiring kembalinya konektivitas internasional Singapura–Belitung membuka harapan baru bagi perkembangan sektor pariwisata di Negeri Laskar Pelangi.
Masyarakat di tiga kawasan wisata berharap manfaat pembangunan tidak hanya tercermin dari investasi dan infrastruktur, tetapi juga dirasakan langsung oleh warga lokal. (*)




